Minggu, 18 Desember 2011

pesan dan cerita singkat

sampai kini masih ku simpan pesan singkatmu
terlalu indah pesan itu untuk ku hapus
kata yg tak mungkin kau ucap lagi padaku sekarang
kata yang akan selalu aku baca ketika ku rindu kamu

beribu sesal takan membuatmu kembali
tadahan maaf tak mungkin juga mampu mengembalikan mu
apa yg meski kulakukan sementara aku mengharapkanmu
dilema ini terus mengejarku untuk melakukan sesuatu

aku tenang bagai embun di ujung daun
saat dimana kamu mengasihiku
aku merasa sempurna bagai sibuta dengan tongkatnya
saat dimana kamu mengajariku akan ketulusan

huh namun kini kasihmu hanya kata dalam pesan singkat
yang dapat kurasakan tanpa ku miliki
pesanmu dulu penuh makna
kini hanya sebatas kata yg selalu mengejekku jika kubaca

diatas garis kehidupan

kepalan tanganku bersikeras membuang ragu
peluh berjalan pelan dari dahi hingga leher
menyuruh ku untuk sejenak berhenti
kaki yang kaku perlahan melangkah meski tak lampaui setiap inci alas kaki
tersendak langkahku dan mulai bertanya aku . . .
Masihkah harus berjalan !!
hingga jelang segalanya tak mampu ku gerakkan
sesungguhnya apa yang hendak harus kupelajari
makna-Mu belum juga muncul dalam kelemahanku

dengan segala kemahaan-Mu ya Allah
aku mohon tunjukan segera kesalahan masa lampau
serta bukankan makna yang masih tertutup rapat . . .

Sabtu, 17 Desember 2011

Cawan Suci

jika dia hanya memberiku harapan,
maka aku berharap dia menjadi santapan pnyesalan..
Citra dari jasadnya yg kutuhankan
biarlah kusembah dalam ritual tembak mati yg takan terulang ..
Akan kugenggam hasrat buas ini hingga pawang datang dngan mantra penenang.
masih terlalu bnyak senggama yg rela meneteskn darah tanpa air mata.
untuk apa kulafalkan kalimat menyebalkan
dan untuk apa kunikmati tubuh bangkai yg penuh satwa penolak hasrat liar..


Bersuakalah di balik pekat rawa penuh kekotoran lakumu
aku takan memburumu jika kau pikir dagingmu haram untuk ku makan..
penatku takan henti memburu binatang jalang sepertimu
dan mungkin lebih baik dari kejalanganmu . . .

Ketika Tanpa Dirimu

malam sebelumnya saat kau masih ditemani sebutir senyum
biarlah terbungkus indah dengan pita merah sejarah
cahaya rembulan yang dulu menatap persandingan
biarlah ku redupkan dengan kelam hatiku saat kepergianmu

bercecer kasih ku di hari selanjutnya
tapi masih saja tak bisa seperti sebelumnya
mungkin kau yang telah menerima segalanya dariku
hingga yang kuberikan pada selain dirimu tak mampu mengembalikan semuanya

tuhan aku mohon padamu
sesungguhnya rasa ini haruslah musnah
maka musnahkanlah semuanya
tetapi sisakanlah untukku namanya
agar aku tetap bisa mengenangnya dengan nama

jangan sakiti dia seperti kesakitanku karenanya
dia terlalu lemah untuk disakit
berilah kebahagiaan hakiki
tanpa sebutir air mata
tanpa sepercik kata dari murka
hembusan doa ini akan terus terlantun dikala apapun
bahagialah sayang . . . .

mungkin ini kata sayang terakhir untukmu
dan akhir kata dari cerita tentang aku

Kembalikan

sekarang aku sendiri
esok entah siapa lagi yang pergi
lelah kutatapi sepi
siang pagi dijejali elegi


malam tetap saja
tenggelam tanpa irama gundah
setiap jendela ku telaah
telingaku tetap tak remah

sempat aku mengarib keluh
relakan asa pergi menjauh
sepi menjadikanku rubuh
rubuh hingga tersimpuh

aku ingin bising tawa ayah kembali
aku ingin nenek memekik nama ku lagi
aku ingin mendengar sahabtku bernyanyi
aku ingin mereka hadir . . !!

meski tanpa nyawa seperti sediakala . .

Putri berseragam

sulaman kata bernyanyi senandung rindu
langkah jemari menelusuri sepi
sang putri masih tertidur berbalut senyum
ketika sedang dirindukan seseorang dalam bermimpi

mungkin ketika pagi kau masih tak sadari
bahwa pada awal berganti hari
pada akhir terlelapnya mentari
aku disini menulis sesuatu dengan harapan kau dapat tahu
tahu sesuatu yang akan ku ucap di hari nanti


waktu yang tepat adalah ketika ku mulai melihat senyum yg tersesat
hari yang pas adalah saat tatapan yang terpukat
kunanti hari itu . . .sampai kapanpun . . .


hai putri ... !!
tertidurlah dengan mata terbuka
aku disini menatapmu melalui bayangmu


belaian angin tak mampu mengusir semua
terlampau banyak yang kusuka darimu
dari mulai rambut yang terikat rapih seperti karangan bunga
hingga bibir tempat senyummu bersembunyi seperti rekahannya


aku tahu satu pujian untukmu adalah dosa untukku
namun apakah jika tak kuucapkan kau akan mengerti
bahwa aku menyayangimu di sisi gelapku . . .